Tampilkan postingan dengan label Artikel Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Fotografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2007

[A] Kalo Hati Tidak Tenang

Sebenarnya artikel yang ini sifatnya lebih ke curhat aja. Yah.. paling tidak setelah curhatan ini di upload banyak teman bisa ngasih saran soal pengalaman memotret seperti ini. Ok deh langsung saja anda simak curhatan saya ini...

Harusnya saat kita motret itu bawaannya kudu hepy, karena saat itu kita nglakuin aktifitas yang paling kita senangi yakni motret. Tapi beberapa waktu yang lalu saya baru aja mendapat assignment yang sepertinya kalo saya rasakan seperti ada faktor kesengajaan dari yang ngasih tugas buat motret di tempat yang “susah”.

Cerita ini berawal ketika saya sedang mengikuti proses rekruitmen fotografer di salah satu media terkemuka di kota Surabaya beberapa waktu lalu. Problem pertama yang saya hadapi adalah saya buta Surabaya alias gak ngerti sama sekali seluk beluk Surabaya, untung saja saya punya teman yang senantiasa mau menjadi tour guide selama saya seminggu berada di sana (paling tidak masalah pertama sudah bisa teratasi, makasih nggih Wan Afu).

Karena ini assignment maka mau gak mau saya harus tetap setor apapun juga keadaannya dan yang bikin ribet lagi hasil fotonya bakal di kompetisikan sama calon-calon yang lain. Tapi ini masih belum masuk pada problem utamanya. Seperti yang sudah saya tulis di awal tadi, kebanyakan dapat assignment motret di tempat yang “susah” di potret. Susahnya bukan karena tempatnya jelek atau gak ada cahayanya sama sekali atau hal lain yang sifatnya sangat teknis, tapi lokasi yang dijadikan tempat assignment adalah tempat-tempat yang tidak boleh di foto (emang ada tempat seperti itu ?).

Sebut saja mall, coba saja langsung terang-terangan jepret sana jepret sini. Di jamin gak bakalan lama security yang sok tegak dan tegas datang menghampiri dan siap untuk menyeret kita ke pos mereka (hii...!!).

Kamis, 02 Agustus 2007

[G] Dari Hal Yang Paling Dekat

Dari mana saya harus memulai memotret, sebuah pertanyaan muncul dari benak saya saat itu. Seseorang menjawabnya “Mulailah dari hal yang paling dekat”. Tapi hasilnya sama saja, pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan baru lagi “Apa menariknya hal-hal disekitar saya, semuanya biasa aja”. Sejak saat itu tak pernah sekalipun saya memotret hal-hal yang paling dekat dengan diri saya kecuali sebatas foto dokumentasi saja. Kira2 4-5 tahun masa itu telah berlalu dan tetap saja belum pernah sekalipun saya berniat untuk memotret hal-hal yang ada di sekitar saya, hingga pada suatu malam tiba-tiba saja saya ingin mencoba asal motret karena kebetulan ada kamera digital (lumayan lah…, kalo jelek gak rugi beli film). Hal yang paling dekat dari saya malam itu adalah kamar saya sendiri. Maka saya ambil kamera yang ada ditas dan mata saya mulai melirak-lirik kesana kemari untuk memilih mana dulu yang saya foto. Kini kamera yang saya pegang sudah berada ditangan saya hampir 20 menit lebih, tapi tetap saja saya belum tau mana yang bagus untuk di foto. Hingga akhirnya bermula dari pikiran “udah lah.. cuman iseng aja kok susah, toh juga pake digital”, sebuah poster yang nempel di salah satu dinding kamar saya foto. Keduanya tumpukan yang serabutan diatas lemari juga saya foto, kemudian buku, rak, komputer dan seterusnya, dan seterusnya, dan kembali lagi saya bingung. Hasilnya juga biasa aja gak ada yang ngejutin. Saya kemudian jadi malah punya kesimpulan bahwa selama ini yang membuat foto-foto saya menarik karena objeknya yang menarik bukan karena saya yang membuatnya menjadi menarik. Halah jadi repot nih urusannya…


Ini adalah hasil dari beberapa jepretan yang saya beri judul “SAYA”. Semoga mengundang banyak kontraversi...







Senin, 30 Juli 2007

[A] Sebuah rekaman perjalanan hidup

Foto keluarga selalu menampilkan wajah-wajah yang tersenyum. Foto keluarga adalah buku catatan tentang perjalanan sebuah keluarga. Pernikahan, kelahiran, liburan, pesta ulang tahun anak-anak. Orang-orang memotret di saat-saat bahagia dalam hidup mereka. Dan ketika orang lain melihat album foto kita maka mereka akan menyimpulkan bahwa perjalanan hidup keluarga kita yang ceria dan sangat menyenangkan seakan tanpa cela. Bebas dari tragedi tanpa ada penderitaan tanpa ada cucuran air mata. Tak ada yang mau memotret sesuatu yang ingin dilupakan.

Apa yang terjadi seandainya salah satu dari tumpukan album kita hilang. Bagi saya maka hilanglah salah satu cerita dari sekian banyak cerita tentang perjalanan hidup saya. Saat ini saya masih bisa berbagi cerita tentang masa balita saya, bagaimana saya dulu bertingkah, perayaan ulang tahun saya dan tentang ciuman pertama saya.

Memang tidak semua orang menyadari arti penting dari sebuah rekaman peristiwa (ini adalah kata lain yang tepat bagi saya untuk mendefinisikan sebuah foto), sebuah gambar yang menahan waktu untuk sepersekian detik saja dan kemudian seakan-akan membawa kita kembali ke masa lalu (foto adalah masa lalu, foto tidak akan pernah masa depan).

Shutter di tekan, lampu kilat menyala dan saat itu pula kita menghentikan waktu untuk sejenak meski hanya sekejap mata. Jika seandainya seseorang bertanya tentang apa sebenarnya foto ini, maka jawabannya adalah ini tentang saya. Ini adalah sebuah cuplikan sepersekian detik dari perjalanan hidup saya, bahwa saya ada. Aku pernah kecil, aku pernah muda dan ada sebagian orang yang peduli yang kemudian memotret saya.

Minggu, 15 Juli 2007

[A] Mata melihat, Tapi memotret adalah menyatakan

Karena foto adalah bahasa fotografer, maka memotret merupakan tindak berkata, yang baru dalam hasil akhirnya sebagai foto ter-pandang akan lengkap sebagai wacana bahasa. Memotret dengan begitu tidak lagi mengabdi kepada sekedar usaha representasi dunia, melainkan pelahiran dunia yang lain sama sekali. Memotret jadi bermakna aktif, bukan cuma merekam, mendokumentasikan, dan setia dalam pemotretan, diri Subjek-yang-Memotret, diri aku sangat menentukan ada-nya foto itu. Memotret adalah bentuk dari dialog Subjek-yang-Memotret dengan dunia. Tindak memotret adalah bagian dari percakapan itu. Mata melihat, tapi memotret adalah menyatakan. (dikutip dari Kisah Mata oleh Seno Gumira Aji Darma)

[A] FOTO : VISUAL BERMAKNA

Sampai saat ini konsumsi manusia terhadap foto sepertinya masih belum ada habisnya, perkembangan gambar gerak yang juga sedemikian maju dan murah ternyata juga belum mampu menggeser keberadaan dari foto. Hal ini disebabkan oleh kekuatan rasa dramatis dari gambar tak bergerak yang tidak dimiliki oleh video.
Fotografi memang sebuah dokumentasi dan itu tidak bisa di pungkiri. Sebuah dokumentasi yang memberikan pesan sehingga mampu bercerita meski hanya 2 kata. Maka bagi sebagian pelaku fotografi menyatakan bahwa foto yang baik adalah foto yang bisa menyampaikan pesan itu memang benar adanya. Bagi sebagian golongan yang hanya men-jepret-kan kameranya disaat-saat tertentu saja seperti saat liburan, tanpa mereka sadari bahwa tumpukan foto mereka sebenarnya adalah tumpukan cerita. Akhirnya hampir tiap orang memiliki serentetan foto mengenai pribadi dan sekitarnya dalam suka dan duka. Seakan menjadi sebuah saksi sejarah perjalanan hidupnya. Melihat dari sifat foto yang mampu untuk bercerita menjadikan foto sebagai salah satu bentuk dari sekian banyak media komunikasi yang berupa visual atau gambar. Media komunikasi visual bisa didefinisikan sebagai alat atau sarana penyampaian pesan berupa visual / gambar / imaji / citra. Media komunikasi visual sendiri sangat beragam dan tidak hanya foto, bisa lukisan, desain grafis, patung dan lain-lainya. Namun perbincangan ini akan kita arahkan dalam media foto saja.
Ada syarat utama bagi sebuah foto agar bisa menjadi media komunikasi yang efektif yakni foto yang bisa dicerna. Pesan yang termaksud dalam ide harus sebenar-benarnya mampu dibuat dalam sebuah foto. Maka jangan sekali-kali memaksakan ide kita bahwa foto ini adalah foto orang yang sedih kepada orang yang melihat foto jepretan kita.

Kamis, 05 Juli 2007

[A] Foto : Teman Hidup

Memang... foto hanyalah sebuah rekaman peristiwa. Tapi apakah itu saja yang kita dapatkan dari sebuah foto, ternyata tidak. Tanpa kita sadari bahwa sebuah foto menjadi sebuah saksi sejarah perjalanan dan perubahan sebuah kehidupan. Bagaimana kita bisa tahu wajah kita ketika kita balita jika kita tidak melihat foto yang yang telah dijepretkan oleh orang tua kita. "Wah... ternyata aku dulu putih yaaa, sekarang kok bisa item..." batinku ketika aku melihat sebuah tumpukan foto yang berada di atas lemari.... (bersambung)